Teknik Dasar Fotografi

SHUTTERSPEED DIAFRAGMA ISO

Bagaimana cara membuat foto dengan eksposur yang tepat? Sebenarnya caranya sangatlah mudah. Kita tinggal membuat sebuah garis indikator cahaya (metering) tepat berada di tengah dengan cara mengatur shutterspeed, diafragma, dan ISO di kamera kita. Jika indikator itu sudah berada di tengah, tekan tombol shutter, jadilah sebuah foto dengan eksposur yang tepat.

Diafragma

Diafragma adalah besar kecilnya bukaan lensa.
Semakin besar diafragma semakin banyak cahaya yang masuk. Ruang ketajaman semakin tipis.
Semakin kecil diafragma semakin sedikit cahaya yang masuk. Ruang ketajaman semakin luas.

Shutterspeed

Shutterspeed adalah kecepatan buka tutup sensor.
Semakin lambat shutterspeed semakin banyak cahaya yang masuk. Semakin lambat kemampuan kamera menangkap objek.
Semakin cepat shutterspeed semakin sedikit cahaya yang masuk. Semakin cepat kemampuan kamera menangkap objek.

ISO

ISO adalah sensitifitas sensor terhadap cahaya.
Semakin tinggi ISO semakin banyak cahaya yang masuk. Semakin banyak noise yang keluar dalam foto.
Semakin rendah ISO semakin sedikit cahaya yang masuk. Semakin sedikit noise yang keluar dalam foto.

“Bagaimana menentukan kombinasi ketiganya? Caranya adalah menentukan prioritas foto apa yang akan anda buat. Apakah Slow Speed, Panning, Ruang Ketajaman Sempit, atau yang lainnya.”

Ruang Ketajaman Sempit – Diafragma Besar

Pasti anda pernah melihat foto dengan suatu objek yang tajam dengan background yang blur. Teknik ini sangat digemari karena dapat memperkuat objek pada foreground dan juga terasa lebih artistik. Caranya dengan menggunakan diafragma besar.

Diafragma besar, contohnya f/1.4, f/1.8, f/2, dst.

Ruang Ketajaman Luas – Diafragma Kecil

Jika diafragma besar menghasilkan efek blur pada background, maka diafragma kecil menghasilkan efek tajam dari foreground sampai background. Diafragma kecil biasanya digunakan dalam memotret landscape yang membutuhkan ketajaman di seluruh bagian foto.

Diafragma kecil, contohnya f/11, f/16, f/22, dst.

Freeze Object – Shutterspeed Cepat

Jika kita memotret benda yang bergerak dengan cepat, dan ingin objek itu benar-benar tampak diam, kita harus mengatur shutterspeed secepat mungkin.

Shutterspeed cepat, contohnya 1/640, 1/1000, dst.

Slow Speed – Shutterspeed Lambat

Ingin membuat efek blur pada objek yang bergerak? Kita bisa menggunakan teknik slow speed dengan menggunakan shutterspeed lambat. Memotret dengan shutterspeed lambat sebaiknya menggunakan tripod.

Shutterspeed lambat, contohnya 10 detik, 30 detik, dst.

Panning – Shutterspeed Lambat

Jika ingin menghasilkan efek foto objek dengan background yang seolah-olah bergerak, kita harus membuat shutterspeed sedikit lambat, lalu ikuti pergerakan objek tersebut. Karena kamera mengikuti pergerakan objek, maka objek akan tetap fokus namun background akan seolah-olah bergerak. Teknik ini biasa disebut dengan Panning.

Shutterspeed lambat, contohnya 1/15, 1/30, dst.

Lowlight – High ISO

Saat gelap, kita seringkali tidak mendapatkan shutterspeed yang cukup cepat. Padahal shutterspeed yang lambat dapat membuat foto kita kurang tajam. Agar kita mendapatkan shutterspeed yang cukup cepat, salah satu caranya adalah dengan menaikkan ISO. Efek sampingnya adalah munculnya bintik-bintik pada foto, atau biasa disebut noise.

High ISO, contohnya 3200, 6400, dst.

Setelah menentukan prioritas, selanjutnya yang harus dilakukan adalah menyesuaikan shutterspeed/diafragma/ISO agar indikator (metering) tetap berada di tengah. Sehingga kita bisa mendapatkan hasil foto dengan eksposur yang tepat.

2 Comments.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *